Sunday, May 14, 2006

Dik...

Dik,

kamu mengajariku bagaimana caranya tertawa. jauh sebelum Charlie Chaplin menggelitik dunia, kamu sudah membelah ketakutanku dengan sorot matamu yang selalu jenaka kepada malam.

Dik,

kamu mengajariku bagaimana caranya menjadi bertenggang rasa dan menghargai manusia. jauh sebelum lembar-lembar Das Kapital menghampiri rak-rak toko buku dan membuka wacana tentang pentingnya bahagia dan kecewa. aku menyadari arti hidupmu saat nafasmu terhenti satu per satu saat itu dan aku belum tahu bagaimana caranya berdoa selain menyanyikan "bintang kecil" dari pinggir tempat tidurmu.

Dik,

kamu mengajariku bagaimana menjadi keturunan sejati Adam Smith. telapakmu tak pernah mudah tengadah, walau hidup kita diterjang susah. dan bagaimana menghargai detik-detik waktu, setiap keping rupiah, dan setiap pelajaran di jengkal perjalanan.

Dik,

waktuku seribu, namun berdepa jauh langkah telah meninggalkan kepingan-kepingan masa kecil kita. aku tak dapat menikmati selorohmu setiap waktu, demikian juga rindu. tapi aku selalu di situ, di sebisikan jauhnya darimu. mungkin kau memang tak pernah tahu, tapi kau jauh lebih berharga dari nyawaku.

Menabrakmu

tak ada satu asuransi pun yang bisa mengganti serpih-serpih yang bertebaran dari sebuah jantung yang telah lama retak tertabrak sebuah senyuman yang lama sembunyi di lembar-lembar waktu. aku berserak dan semakin hancur merindumu.

Percayalah Padaku, Adia

percayalah padaku, Adia, sepatu kaca itu tidak pernah tertinggal di bawah tangga. ia tergeletak entah di mana. mungkin di tempat sampah, mungkin di antara cucian piring dan baju-baju kotor, mungkin terselip di antara sumbu-sumbu kompor warteg, mungkin teronggok di TPS Bojong menanti pemulung memungutnya dan menualnya ke bandar-bandar kaca bekas untuk dijadikan gelas hadiah sabun deterjen.

kita dibangun dari pasir dan masih berdiri di atasnya menunggu ombak pasang menghancur leburkan keutuhan kita. tuhan seperti batok kelapa yang berayun dibawa gelombang dan riak, menghampiri kita tanpa minat dan meninggalkan pesisir menuju pantai tanpa cemar. pasir-pasir kita semakin kering dikelantang matahari, mengepul dalam fatamorgana, dan jika kelelahan semakin ajeg, kita pun memasrahkan diri pada angin yang berpilin menjauh ke selatan.

jika demikian, adia, mengapa kita masih terus berlari, berlari, dan berlari dari kejaran hidup yang jahat seraya menyebarkan rumput jejarum dan batang-batang tombak? mengapa kita tak tidur saja selamanya dalam peti-peti kaca dan menanti keniscayaan menunggang kuda putihnya membangunkan kita? mengapa, adia? apakah kaki-kaki ini tak
cukup indah untuk berpijak? atau mungkin dunia terlalu membosankan untuk ditinggali hingga kita mencari-cari sejuta ketegangan yang tak perlu dan akhirnya sepecut petir memporak-porandakan kita dalam kepingan hingga tak terkenali lagi sebagai sebuntal daging bernyawa.

percayalah, adia, harapan adalah mozaik dari perca-perca kegagalan, bukan dari setengah pasang sepatu kaca yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu yang tak pernah terbuka.

Masih Punya Cinta

kita masih punya cinta
di saku celana
di selipan kaus kaki
di lipatan saputangan
di bawah sajadah
di dalam asbak
di celengan babi
di tiap getar telepon genggam
di tengah halaman novel Marquez
di antara pita kaset Joni Iskandar
di lengkingan Candil Serieus
di guyuran toilet
di daun-daun gugur
di tunas-tunas malu
di ayun-ayun batik lusuh ibu
di desis pohon kelapa
di gemeretak jemari
di setiap kunyah
di setiap langkah pulang

kita toh masih punya cinta
kecil mungil ringkih
namun bernyawa

Friday, March 24, 2006

Protes!

bukan. bukan uang yang saya cari dari sebuah media yang meminta karya saya. tapi sebuah timbal balik, berupa tanggung jawab kepada seseorang yang telah merelakan karyanya untuk dimuat. 3 bulan bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penundaan oleh majalah yang tidak sebesar majalah-majalah didikan gramedia. dan 3 bulan bukanlah sebuah waktu yang sebentar untuk seorang penulis yang menunggu para editor yang bekepentingan untuk sekedar memberi tahu bahwa karyanya telah dimuat. bukan...bukan uang yang saya cari. saya, dengan sujud syukur masih hidup berkecukupan dari bidang kerja yang lain, hanya ingin sebuah pertanggungjawaban atas sebuah karya yang mungkin tidak sefenomenal karya pengarang-pengarang ternama tapi merupakan sebuah jejak dari sejarah karir penulisan saya.

semoga tulisan ini diperhatikan oleh segenap editor, redaksi, serta staff media yang berkepentingan atau yang akan berkepentingan untuk tidak melecehkan karya penulis mana pun, terutama penulis yang masih mencari sebuah jejak!

maaf untuk kata-kata ketus saya untuk beberapa majalah yang sudah mengacuhkan saya berbulan-bulan alias tidak memberitahu atau mengkonfirmasi apa pun (baik pengiriman bukti pemuatan atau pembayaran jasa kontributor) setelah karya saya dimuat. karena saya sungguh-sungguh kesal!

Wednesday, February 22, 2006

[puisi] Aku Malam

aku malam
berburu pada pena
demi sedaging puisi

o kuliti aku yang malam
hingga tetes
sedarah larik
yang kau jilati bermalam-malam
demi sedaging puisi

o,
aku yang malam!

semata pena menembus paru
menelanjangimu dalam malam
menggilai semesta, oh aku
yang
malam

aku kelam!
aku muram!
aku dalam!

tenggelamkan aku dalam tinta malam!
semata bercak darahku yang hitam, tak kunjung kau terpejam

aku memang malam!
sepedang pena menembus jantungmu!

serahkanlah senja!
serahkan ujung-ujung nirwana
kepada aku yang malam!
kepada aku yang padam!
hingga tutup mata dewa
di cakrawala syair semesta

aku
malam
berburu pada pena
demi sedaging puisi
dan bunga yang terbenam

Thursday, January 19, 2006

Duel Maut

ini adalah sebuah duet puisi antara saya dan Ompit Abimanyu, seorang penyair asal Yogya lewat layanan Yahoo! Messenger hampir 3 tahun lalu. Entah dimana Ompit sekarang (terakhir tahu dia ada di pedalaman Kalimantan)... tapi puisi ini akan menjadi artefak yang berarti dalam "karir kesusastraan" kami berdua.

* * * * * * * *


ompitabimanyu (29/03/03 12:48:04):

apa yang tersisa dari hidup ketika puluhan peristiwa berderak, menjadi batuan vulkanik yang memampatkan arus larink di tenggorokan? cara bernapas pun bahkan telah berubah. dari sekedar meminjam rahmat hidup, tiba tiba menjelma dengus dendam tak berkesudahan. lalu helai demi helai sepi menetak. meski didalam, bisu diam sunyi seringkali lebih berteriak dari moncong anjing belanda. adakah lorong lain yang dapat kau tawarkan padaku, kawan? semacam janji tentang kemungkinan dunia yang tak berdusta. tempat kita bisa tersenyum, menangis atau bahkan bercinta tanpa rasa dosa. katakan! telah cukup berlumut pantatku menyetiai bilik sepi yang makin riuh ini. sungguh! sumpahku hingga serapah..


randurini (29/03/03 16:35:55):

tak ada yang tersisa selain segala gading retak dan belang tertinggal. disana ia terbaring di dalam rahim seorang ibu yang mati otak. demi ilmu, ia bertahan tanpa banyak tanya dalam inkubator alam. apakah ia menangis di dalam sana? menangisi kelembutan yang takkan sempat dilihatnya. menangisi rupa dunia yang akan dilihatnya. ia menunggu dalam lorongnya sendiri, tak ada sumpah dari mulutnya yang belum jadi. sebuah ketegaran kecil yang kudengar pagi ini, mengalahkan segala dengki di otakku yang tak kunjung mati.


ompitabimanyu (29/03/03 12:58:24):

aku ingin menangis, tapi untuk apa. lagipula sudah lama aku tak pandai mengundang airmata setelah kematian kesekian menegaskan satu isyarat dalam catatanku; hidup terlalu manja untuk ditangisi. ya! tapi sialnya, tertawa pun tak lebih jantan dari airmata. tak lebih mulia dari dusta. lalu sederet keanehan itu datang. anjing! siapakah itu yang memburu siapa? bahkan ketika laut surut dan burung burung berangkat terbang. aku ingin pulang, sayang. memeluk rindu, entah apa..


randurini (29/02/03 16:38:45)

pulanglah, sayang. peluklah rindu. jangan undang air mata. dunia terlalu lucu untuk kau tangisi. kebodohan yang satu menutupi kebodohan yang lain. pasrahkan lelahmu di ninabobo angin. terbitkan sayap-sayap rindu di punggungmu. terbanglah... terbanglah...


ompitabimanyu (29/03/03 13:03:32):

ketika hidup makin larut dalam absurditas maha kalut, selalu ada tawa didalam tangis. selalu ada tangis didalam tawa. adakah batas batas itu telah dirampas? oleh siapa? gila! hanya untuk mengerti hidup, seseorang mesti berkali kali mati..


randurini (29/03/03 16:40:30)

dan seseorang harus hidup berkali-kali untuk mengerti sebuah mati.

Monday, January 16, 2006

Sudut

:achsa



di sudut merah itu ia menampakkan sebinar matanya. seperti bintang. kerlipnya jatuh di pangkuanku saat senyumnya tak henti mengejawantahkan jantung hatinya. seketika itu juga aku menjadi rumput hijau di bawah kakinya, membiarkan ia menari-nari di atasku, mempuisikan cinta dan memporakporandakan kerajaan langit dengan kebahagiaannya.

ya. ia jatuh cinta. dan segalanya tinggal serpih-serpih penyesalan dari balik bilik-bilik yang terdiam. mereka melihatnya seperti penari utama di panggung tarian angsa. melompat. berputar. tertiup derai-derai cinta. tak terbendung karang-karang panjang. tak membagi sebuah patah hati. lagi.

jangan salahkan dia karena terlanjur cinta. sudut merah itu telah dimaknainya dan didirikannya seribu dupa bagi dewa-dewa. sebuah doa melangit sebagaimana kembang api dan tercurah kembali menjadi lampu-lampu taman hatinya yang tadi gelap. jangan. jangan kau nodai dengan selembar mantra kutukan. karena ia jatuh cinta.



Saturday, January 07, 2006

Sebuah Renungan Di Sekibas Tombak Yue Ying

sebetulnya, aku layaknya seorang pemboros yang gemar menaruh barang-barang ke dalam troli. aku senang melihat barang-barang itu bertumpukkan di sana, menindih satu sama lain, mengembangkan semua khayalku akan ribuan rencana. warna-warni barang-barang itu menjadi gempita di titik malam dalam bola mataku. melukisi dinding-dinding ratapan dengan semburan "chicken soup for the lonely soul", agar esok aku tak lagi menjadi bridget jones dengan diarynya.

begitu sampai di kasir, aku berbalik arah dan menaruh sebagian barang di rak yang berbeda, karena setelah dipikir-pikir barang-barang itu memang tak perlu ada di troliku.

dan di saat itulah presipitasi lokal menderas dan terus membanjiri lubang genangku. lubang yang telah dilindas ban-ban truk dan kontainer raksasa berulang kali tanpa ampun. lubang yang selalu terlupakan saat air bah menyurut dan meninggalkan warisan tanah lembab beserta kolera. lubang yang termaki saat lengah menjadi nama tengah dan kecerobohan menjadi label di saku kananku.

aku bangun pagi ini di sekian detik sapaan baritonmu. di kelengahan kantuk itulah kau menyusupi kegelisahan. begitu rapi dan polos. dan kau mengatakan rindu dengan semena-mena. sementara aku terus berjaga, memagari keberadaanku dengan bata-bata yang kususun perlahan dan raung yang tak terdengar.

aku sudah lelah dengan semua ini. lelah dengan kesempurnaan yang lewat begitu saja di depan mataku tanpa bisa kutangkap. aku tak ingin mempertahankan ribuan pertanyaan "jika yang lain bisa, mengapa kita tidak?"

ternyata privilese cinta bukan bagianku.

Wednesday, December 28, 2005

Mercado

mata belum lagi lelap sungguh
selarik irama melayu di sela adzan subuh
meroda becak bawa ibu ke pasar. menjemput lapar
daftar belanja bagai larik puisi di selembar slip gaji
cerita seracik bumbu sampai ke pinggan
sekeping rupiah jadi incaran
segenggam garam jadi pikiran

menggunung sayur tumbah di pinggiran
segala pantun sahut menyahut para pedagang
jangan tawar sayurku jangan
matahari naik setinggi bensin
terik di kantong semakin kering
jangan tawar hatiku jangan
dari jahe sampai gerabah
busung lapar katanya bukan wabah
janji-janji tergulung air bah
rumah dusun masih rata dengan tanah
jangan tawar cintaku jangan
cabe boleh merah cabe boleh keriting
keringat jambal asin memang kurang penting
dimasukkan dalam pakta-pakta negara dingin
lapak-lapak yang digelar sepanjang trotoar
adalah perdagangan bebas kami
walau tak bebas pungli, jawara, hypermart dan SK Bupati

lantun irama melayu di becek tanah
ayun ayun keranjang ibu melipir pasar
pilih pilih bukan sembarang
barang bagus bukan tikus yang dibungkus
pasal karet dan dakwaan hangus
pilih-pilih bukan sembarang
jargon sakti kepulan asap wangi beras pandan
adalah setebaran senyum di meja makan



{ke pasar bersama eyang puteri...}

Mater Dei

Lin duduk di ujung tempat tidurnya. Sambil menggigiti selembar serbet makan, ia melihat lelaki tua itu berjalan mondar-mandir di depannya sambil mengeluarkan ribuan caci maki ke udara. Di sebuah kursi, seorang perempuan duduk dengan isak yang tak pernah selesai. Sebuah poci teh tergeletak di atas tanah dengan posisi yang ganjil, posisi yang tak pernah diinginkan oleh sebuah poci teh: terjerembab terbalik dengan belalai yang patah. Laki-laki tua itu membantingnya tadi, menumpahkan semua amarahnya kepada tiap gerabah yang ada di rumah itu. Sebenarnya ia laki-laki yang baik, amarahnya tak pernah dialamatkan ke tubuh manusia lain di rumah itu, bahkan kepada Lin yang saat itu menjadi penyebab kemarahannya.

Vaginanya sudah dua bulan tak mengeluarkan darah. Dan sudah seminggu lebih ia memuntahkan semua makanan yang ditelannya. Mak Ching bilang ada bayi dalam perutnya, walau Lin tak pernah tahu bagaimana si bayi bisa masuk ke perutnya. Dalam desahnya yang panjang, Mak Ching hanya berkata: "kita lihat beberapa bulan lagi, semoga itu bayi laki-laki. kalau tidak…" Mak Ching menatap kedua bola mata polos gadis cilik yang rasanya baru kemarin ia keluarkan dari perut ibunya. Ia menghela nafasnya dalam dan memberikan beberapa ramuan racikannya untuk menjaga jabang bayi di perut Lin tetap bertahan.

Lin membereskan barang-barangnya, beberapa helai baju dan beberapa keping uang. Tanpa suara ia mengikuti sang laki-laki tua keluar dari rumah lalu beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari desa. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di sebuah gubuk reyot di pinggir hutan bambu. Lin merasa ada angin aneh menjalari tubuhnya. Ayahnya menaruh pelita di tengah gubuk, menggelar selembar kain di atas dipan reyot, lalu menyuruh Lin masuk ke dalam.

"mulai sekarang kau tinggal di sini sampai anak itu lahir. seminggu sekali ibumu akan kemari untuk bawakan bahan makanan. kalau anak itu laki-laki, bawalah pulang. kalau perempuan..." Laki-laki itu menghentikan bicaranya. Ia mencabut sebilah golok dari belakang punggungnya dan diserahkannya kepada Lin. "jangan bawa bayi perempuan ke rumah, nak. apalagi tanpa ayah."

Laki-laki itu menyelipkan golok ke tangan Lin yang berdiri mematung di depan pintu gubuk. Tak berapa lama laki-laki itu pergi dari gubuk, meninggalkan Lin yang masih berdiri dalam gemetar dan sunyi di sana.

Cahaya rembulan melipir turun lewat batang-batang bambu yang berdesis, menyembunyikan tangis seorang bayi lelaki yang lahir di antara akar-akarnya. Ditatapnya bayi merah yang menggeliat di atas dipan itu. Betapa rapuh. Dan betapa saat itu ia menyadari kerapuhannya sendiri. Lin mencium pipi montok bayinya. "Ah surgaku.. Kaulah yang dapat menyelamatkan hidupku..."

Ia menggendong bayinya yang seketika berhenti menangis dan menatap wajah Lin sungguh-sungguh. Lin menyapa semesta di mata bayinya. Semesta tersenyum kepadanya. Desis hutan bambu mengantarnya keluar gubuk membawa bayinya.

"Aku mencintaimu. Aku pun mencintai adikmu. Jika adikmu tak layak hidup, tak ada satu pun dari kita yang layak hidup. Tidak juga kau, surgaku. Maafkan aku."

Lin mencabut golok yang pernah ditinggalkan ayahnya beberapa bulan lalu dari atas tanah. Ia membelah semestanya menjadi dua. Dalam hening. Dalam bening.



***



Ia memperhatikan lelaki bernafas di sebelahnya. Punggungnya naik turun, mengetukkan irama hidup yang tak bisa terjeda. Bahkan olehnya, yang sedang memaki diri saat menanti keajaiban di balik punggung seorang lelaki. Ia tak harus menunggu lelaki itu membalikkan punggungnya dan mengatakan seluruh perasaannya. Tidak. Ia bisa menyelinap keluar dan tak kembali lagi. Persetan perasaan.



Malam ini adalah malam keseribu. Keseribu kalinya ia memandangi punggung itu. Keseribu kalinya ia menangis di baliknya, mempertaruhkan perasaannya tiap kali lelaki itu selesai menidurinya. Keseribu kalinya. Ia mengelus punggung itu sekali lagi, merasakan permukaannya yang kasar. Mencoba mengerti perjalanan sebuah punggung sampai ke tempat tidurnya. Ia sudah hafal tiap parut luka, jerawat, dan tahi lalat yang tersebar di punggung itu. Ia menghafalkan letaknya setiap malam, setiap kali lelaki itu selesai meraungkan birahinya dan membalikkan tubuhnya seperti biasa. Seperti biasa. Apa yang biasa?

Ia menerima lelaki itu hampir setiap malam. Seorang lelaki dengan isteri soleh dan dua anak yang beranjak remaja. Lelaki yang ia temui di sebuah bar, memandangi minumannya dalam mabuk, seakan semua masalah di hidupnya ikut tercampur di dalam gelas. Ah, betapa polosnya mata itu. Mata yang membuatnya langsung jatuh hati kepada lelaki itu. Mata yang menjadi kanak ketika lelaki itu menyusui putingnya, menghamba pada tubuhnya, lalu tergeletak di sampingnya bersimbah peluh dan duka. Ia akan selalu di sampingnya, menanti malam yang jatuh perlahan di luar jendela seperti biasa. Ya, punggung itu menjadi biasa karena selalu ada. Tapi punggung itu menjadi biasa karena selalu tiada. Punggung itu tak akan ada di sini sebelum adzan subuh berkumandang. Punggung itu akan lenyap dibawa kereta malam, menjauhi pembaringannya yang masih basah, kembali kepada kedamaian cinta.

Cinta?

Ia tak mengerti apakah ia sudah mencintai lelaki ini. Ia tak begitu mengerti tentang filosofi cinta. Ia mencoba mengikuti milis-milis filsafat, atau penyair, atau milis omong kosong lainnya di internet. Ia mencoba mencerna kata orang-orang tentang cinta. Gibran, Browning, Yeats, sampai De Mello. Ia tetap kosong, melompong sapi ompong. Mungkin ia sebegitu bodohnya, mungkin selama ini ia pura-pura pintar seperti kebanyakan orang kota. Mungkin, ia memang tak pernah mau tahu. Cinta itu ribet.

Tapi kini Cinta?

Apa bedanya dengan Ingin? Mana yang lebih penting: Cinta atau Ingin? Buat apa dicintai bila tidak diingini? Buat apa diingini jika tak dicintai? Apa yang bisa membuatnya terus bertahan bersama lelaki ini? Cinta atau Ingin? Apa yang bisa membuatnya hancur berserak atau tetap teguh kokoh? Cinta atau Ingin? Dan apa yang bisa membuatnya tetap di sini, bersembunyi di balik punggungnya dengan detik jam yang berdiam di dalam rahimnya? Cinta…? Atau…

Ini malam yang keseribu. Ya, ini yang terakhir. Tak ada seribu satu malam. Cukup seribu. Seribu kali jatuh cinta, Seribu kali patah hati. Genap sudah karma Pat Kai yang dideritanya. Cairan samsara manis telah direguknya habis dari piala. Kini hanya tinggal tubuh dan darah, kembali pada perjalanannya yang asing dan jauh sampai lebur dan menari bersama semesta.

Sejenak, ia tak ingin punggung itu pergi. Ia ingin punggung itu tetap di sini, berbaring damai di sampingnya untuk menyaksikan kesehariannya. Punggung itu akan melihatnya tidur, melihatnya bangun, makan, membereskan rumah. Punggung itu akan melihatnya membesarkan darah daging mereka yang mereka ciptakan di satu dari seribu malam. Punggung itu tidak akan terbangun lagi sebelum adzan subuh berkumandang. Tidak. Ia akan tetap di sini, menatap kehidupan yang berjalan mulus di belakangnya, tanpa suara, tanpa udara.

***

Kucoba memejamkan mataku. Perjalanan belum selesai. Belum. Jangan dulu pejamkan matamu, demikian sebuah suara di belakang kepalaku berbisik. Kucoba melihat jalan berkelok di depan sana, menanti sebuah tujuan yang aku yakin juga akan sementara. Tapi aku harus terus berjalan, jangan berhenti. Berhenti berarti mati.

Kuperhatikan lelaki yang berjalan di samping keledai yang kunaiki sekarang. Mata lelaki itu juga hampir terpejam. Aku merasa kasihan pada lelaki itu. Betapa aku turut membuat lelaki itu menderita. Lelaki itu ikut terusir keluar dari kota tempat kami dibesarkan untuk sesuatu yang tak pernah kami perbuat. Ini benar-benar tolol.

Aku memperhatikan perutku yang semakin membesar. Di dalam perut ini ada buronan. Aku hanya bisa tersenyum tipis dan sinis. Betapa dunia semakin tolol. Purba dan tolol. Belum puas menggantung perompak, membakar pencuri, merajam pelacur, kini mereka ingin memenggal kepala seorang bayi. Ya, bayi. Tepatnya bayi di dalam perutku. Hanya bayi ini, yang tiba-tiba kukandung tanpa persetubuhan dan tiba-tiba dianggap sebagai pengganggu kekuasaan. Bayi ini harus mati, demikian kudengar dari woro-woro para prajurit dengan terompet dan genderang mereka yang gaduh. Lalu seketika itu juga aku berkemas, ditemani oleh lelaki yang sedang berjalan di samping keledaiku.

“Berbahagialah! Kau akan melahirkan sebuah janji, wahai perempuan!” Tcih! Seenaknya malaikat itu berbicara seperti itu di depanku. Mentang-mentang malaikat. Jika janji itu bukan berbentuk bayi, mungkin aku akan berbahagia. Tapi kini konsep kebahagiaan yang dikatakan oleh malaikat itu menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. Siapa yang berbahagia? Tidak ada! Lelaki di sebelahku ini sama sekali tidak bahagia. Ia ketakutan. Lelaki itu hanya seorang tukang kayu muda lugu yang gemetar ketika diberitahu gadis pujaan hatinya tiba-tiba berbadan dua!

Lalu? Siapa lagi yang berbahagia? Aku? Kata ‘gila’ hampir kulontarkan dari mulutku pada malaikat itu. Tapi tidak sempat. Ia keburu pergi entah kemana, meninggalkan benih di dalam rahimku. Dan menempuh perjalanan ribuan mil menyeberangi dataran kering tanpa uang yang cukup adalah sama sekali bukan perjalanan yang membahagiakan. Dan menghindari pemeriksaan para tentara yang berjaga di setiap pintu masuk kota juga bukan kegiatan yang membahagiakan. Dan mengubah-ubah nama serta daerah asal setiap kali petugas pamong praja romawi mengeluarkan catatan juga tidak menyenangkan. Aku hampir lupa namaku sendiri. Aku hampir lupa mengapa aku di sini.

Dan, pasti bayi ini pun tidak bahagia di dalam sana. Ia pun pasti merasakan ketakutanku tiap kali sepasang mata prajurit menatapku dan perutku penuh curiga. Kurasakan ia menggeliat di dalam sana ketika tanpa sengaja aku mendengar seseorang berkata ada bayi yang dibunuh lagi malam sebelumnya. Kasihan. Bayiku pasti sedang meratap di dalam sana, seperti aku sekarang. Berapa ribu bayi lelaki lagi yang harus dibunuh oleh raja gila itu sebelum ia bisa menemukan jabang bayi yang dimaksud: bayi yang ada di dalam perutku.

Apa yang sebenarnya hendak mereka takutkan darimu, Nak? Apa yang sebenarnya harus kau lakukan jika kau dewasa nanti? Mengapa malaikat itu menyebutmu sebagai yang terjanji? Siapa yang berjanji seperti ini, Nak? Biar ibu pukul dia! Berani-beraninya melekatkan janji yang terlalu besar kepadamu hingga kita dikejar-kejar seperti ini!

Ufh! Kontraksi lagi. Ini sudah kelima kali. Malam melarut dan kami entah di mana. Keledai yang lelah dan setia ini terus berjalan gontai membawaku melewati beberapa gembala yang terlelap di samping kerumunan domba-dombanya. Lelaki itu menatapku dengan matanya yang kantuk dan iba melihatku menahan sakit.

“Tahan sebentar lagi. Kita akan coba penginapan itu. Di kandangnya pun tak apa. Yang penting kau bisa istirahat dan aku carikan tabib. Bertahanlah, Maryam…”

Lelaki yang baik. Lugu dan baik. Aku senang dia ada bersamaku malam ini. Walaupun aku tahu bayi ini bukan benihnya, kuharap ia mewarisi sifat lelaki ini. Ah, itu penginapannya. Pasti mereka tak mau menerima kami. Aku tak peduli, aku tak tahan lagi. Satu bintang paling terang di atas langit itu pun tak dapat kulihat lagi.



Selamat Hari Natal...