Monday, November 28, 2005

Please Make Me Feel Like A Natural Woman

Semua, ya, hampir semua orang yang baru mengenal saya atau bahkan yang sudah lama mengenal saya pasti akan menilai atau menstigmakan saya seperti ini: perempuan tomboy anak kota dengan obsesi tinggi menjadi seorang in-telek-tual feminis. Anjrit! Sumpe loh!? Asal tahu saja, saya sering kehilangan prospektus pacar ganteng gara-gara stigma seperti itu! Itu benar-benar tidak bagus untuk perkembangan kehidupan sosial saya! (Hehehe!) Satu sisi, stigma itu membuat saya GR, tapi di sisi lain saya curiga bahwa itu adalah ejekan. Dan akhir-akhir ini rasa curiga saya lebih besar dari GR saya. Saya lebih melihat adanya ketakutan di balik pemberian stigma itu, dibanding kekaguman.

OK. Memang benar, saya selalu berusaha untuk menjadi lebih pintar. Saya yang sekarang adalah saya yang lebih pintar daripada 10 tahun lalu. Saya kira itu adalah sebuah kelumrahan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mempunyai akal budi dan kehendak bebas. Ditambah lagi, orang tua saya sudah mengeluarkan uang sangat banyak untuk sekolah saya dari TK sampai perguruan tinggi. Kalau tidak tambah pintar, ngapain saya sekolah? Tapi dunia yang patriarkis ini seakan-akan gerah dengan perempuan-perempuan yang kepingin pintar. Jadi kalau lihat ada cewek pinter dikit, langsung dikasih stigma seperti itu. Perempuan pintar sebenarnya kayak apa sih?

Katanya sih, perempuan-perempuan pintar itu pasti doyan baca. Bacaannya juga khusus dong! Baca novel-novel kelas berat, atau buku-buku sospolbudhankam. Perempuan pintar nggak akan baca tabloid gosip sinetron, majalah wanita banget, atau ramalan bintang. Perempuan pintar pasti ogah ikut arisan, karena di arisan banyak ibu-ibu atau perempuan-perempuan yang doyan ngomongin rumah tangga orang lain, ngomongin mobil barunya si anu, ngomongin anaknya si anu yang autis, atau si anu yang "MBA", pesta diskonnya mall ini mall itu, multilevel marketing, atau bazaar l'oreal. Perempuan pintar pasti nggak akan menghabiskan waktu berjam-jam di mall cari stilleto yang tidak semahal stilleto-nya manolo blahnik. Dan perempuan pintar pasti nggak akan ikutan PKK!

KLANG!!!!!!! GUBRAK!!!!

OK, OK. Cukup. Kesabaran saya agaknya sedang diuji di sini. Dari pada marah subuh-subuh, ijinkan saya, si perempuan pintar itu, untuk memberikan sedikit pencerahan.

Akhir-akhir ini saya lebih senang berkumpul bersama teman-teman perempuan saya. Teman-teman saya jauh lebih pintar dari saya. Mereka ada yang novelis, sejarawan, menejer perusahaan besar, editor majalah, pengusaha, pengacara, seniman grafis, dosen atau mahasiswa S3 di sebuah universitas paling bonafid di Eropa sana. Semua okupasi mereka bisa membuat banyak laki-laki keringat dingin, dibandingkan dengan saya yang cuma penulis lepas binti miskin ini. Tapi dengarkan obrolan kami saat kami bertemu di gerai kopi sebuah mall atau city walk. Pasang telinga anda baik-baik dan jangan kaget dengan pembicaraan kami yang berkisar : proses cerainya Tamara Blezinsky, sepatu stilleto, fesyen terkini, cara cepat melangsingkan tubuh, melonjaknya harga pampers di carrefour, perbandingan harga serta kualitas antara compact powder merek make up forever dan bobby brown, ngegosipin djenar atau cowok metrominiseksual yang baru saja lewat sambil melirik ke arah kami.

Kecewa? Lebih baik jangan. Karena kami menyadari bahwa kami seutuhnya perempuan, dengan bawaan orok yang khas perempuan. Karena sesungguhnya, di balik kepribadian gotik atau gaji berpuluh dijit atau tato kupu-kupu di dekat pantat atau buku-buku yang tersusun di rak-rak kami, ada hal-hal yang tak ingin kami hilangkan dari keperempuanan kami. Dengan tidak berusaha menjadi feminis, saya ingin memaparkan hal-hal berikut agar bisa dipikir-pikir lagi jika suatu saat anda ingin memberikan stigma 'pintar' dan 'tidak pintar' kepada perempuan-perempuan dalam hidup anda.


1) Membaca.

Setelah RA Kartini, Dewi Sartika, serta Ki Hajar Dewantara bersusah payah mendidik bangsanya yang buta huruf dan bodo-bodo ini, maka kegiatan membaca adalah sebuah kegiatan yang sangat berharga. Untuk itu, membaca apa pun adalah tidak haram hukumnya. Mau itu tabloid kek, ramalan bintang kek, poskota kek, bahkan teka teki silang edisi eva arnaz juga tidak masalah sebenarnya.

Saya sangat bersyukur melihat seorang ibu rumah tangga dengan khusyuk membaca tabloid Nova, Bintang Indonesia, atau apa pun yang tidak berat-berat itu. Karena mereka sebenarnya secara tidak disadari masih dikenakan pembatasan 'wilayah bacaan' oleh budaya patriarki. Dan sebenarnya isi tabloid-tabloid itu tidak jelek-jelek amat. Berbagai rubrik di sana berusaha membuka mata ibu-ibu di wilayah domestik, dari resep masakan sampai 'penyuluhan' kekerasan dalam rumah tangga yang disajikan lewat kisah-kisah nyata. Di tabloid itu juga, ibu-ibu rumah tangga disediakan ruang atau bahkan menciptakan ruang bagi mereka sendiri untuk berinteraksi dengan dunia luar dan mengkapasitasi diri mereka dengan pengetahuan domestik yang lebih baik.

Jika yang menjadi masalah adalah pilihan bacaan itu sendiri, maka yang perlu disadari adalah masih minimnya akses bacaan untuk perempuan. Dulu tidak banyak orang tua yang 'mengijinkan' anak perempuannya untuk sekolah sangat tinggi (di luar kapasitas biaya) sehingga rentang pilihan bacaannya pun sesuai dengan minat yang sudah dibatasi itu. Ditambah lagi adanya bias gender akan pilihan bacaan. Buku-buku ilmiah atau apalah yang 'berat-berat' itu adalah buku-bukunya lelaki. Merubah 'budaya' membaca bagi kaum perempuan ini memakan waktu yang sangat lama dan dibutuhkan kebijakan struktural yang kondusif serta revolusioner. Banyak negara-negara maju yang membutuhkan ratusan tahun agar perempuan-perempuannya ikut maju setelah pertama kali perempuan-perempuan mereka dibebaskan dari buta aksara. Biarkan saja perempuan membaca, apa pun yang mereka mau, karena dari situ sedikit demi sedikit perempuan sebagai manusia pun akan mencari hal-hal baru, bacaan-bacaan baru atau yang "lebih berat" daripada tabloid.

Contoh: Eka Kurniawan, pengarang novel Cantik Itu Luka, meminjamkan novel itu ke seorang ibu rumah tangga di sebuah komplek perumahan. Tak disangka, tak dinyana, novelnya (yang audjubillah "berat"nya itu) ternyata beredar dari satu ibu ke ibu lain di kompleks itu. Ibu-ibu itu sangat menyukai Cantik Itu Luka dan bahkan membahas novel itu di arisan mereka. Bayangkan! Itu hal yang mengharukan bagi saya. Jangan remehkan ibu rumah tangga!


2) Arisan dan PKK

Ada salah satu hak asasi manusia dalam piagam PBB yang menyatakan: setiap manusia bebas untuk berserikat dan berkumpul. Arisan is one form of the right! Ikut arisan bukanlah sebuah bentuk pembodohan. Di sana, perempuan-perempuan (ibu rumah tangga) berkumpul untuk saling update tentang kegiatan-kegiatan bersama bahkan untuk sekedar curhat. Di sini lagi-lagi ada ruang yang berusaha diciptakan oleh perempuan untuk mengekspresikan dirinya di luar wilayah domestik. Waktu saya masih bekerja di periklanan, saya mengikuti arisan ini untuk mengetahui problematika perempuan di wilayah domestik yang sering keluar dari mulut-mulut mereka ketika mereka bergosip atau curhat. Di situ saya bisa merangkum hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh target market, juga visi mereka dari yang paling sederhana maupun yang paling rumit. Jika anda ingin tahu masalah perempuan dan bagaimana menghadapi perempuan, ikutlah arisan.

Apalagi dengan kegiatan bernama PKK itu! Astaghfirullah... Semoga Tuhan mengampuni Ja'far Umar Thalib yang telah merendahkan martabat ibu-ibu PKK di IAIN Sunan Kalijaga baru-baru ini. Kegiatan PKK, di luar kecurigaan akan adanya doktrin-doktrin orde baru di sana, adalah sebuah kegiatan luar biasa positif yaitu membagi pengetahuan bagi para ibu untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan keluarganya. Karena PKK menyadari kapasitas perempuan sebagai manusia yang kuat, yang bisa menanggulangi berbagai urusan domestik sekaligus sebagai partner setara laki-laki. Lagi-lagi, saya sangat bersyukur ibu saya dulu adalah anggota PKK, di mana ia mendapat banyak pengetahuan tentang pemenuhan gizi anak-anaknya.

Perkumpulan-perkumpulan perempuan baik yang hanya arisan sampai organisasi basis politik adalah sesungguhnya sebuah daya dari kaum perempuan untuk keluar dari berbagai pagar yang selama ini berdiri kokoh di sekitar keberadaan mereka. Jika arisan saja masih diberi label sebagai kegiatan yang tidak perlu dan buang-buang waktu, perempuan tidak akan bisa mengekspresikan dirinya di tengah gempuran budaya patriarki seperti sekarang ini.

Menjadi penulis seperti saya, atau perempuan-perempuan seperti teman-teman saya itu sebenarnya tidak begitu istimewa atau kinclong seperti yang dipikirkan selama ini. Karena setiap perempuan mempunyai dasar untuk bisa menjadi seperti perempuan-perempuan hebat dalam sejarah manusia jika memang diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan dirinya. Saya tidak mengenal jargon-jargon feminisme. Saya hanya percaya bahwa perempuan adalah juga manusia, seperti laki-laki, yang mempunyai hak untuk pintar.





:buat cowok-cowok minder itu dehhhh... hahaha!

9 Comments:

At 12:29 PM, Blogger Mang Q said...

ahm,
smart woman turns me on ....

 
At 5:13 PM, Blogger Beku said...

Randu, ini ika temannya novi.boleh saya masukkan tulisan kamu ini ke zine setaramata saya yang ke 6?

Terimakasih banyak sekali buat tulisan tulisan kamu yang nggak ada matinya di blog ini.

K.

 
At 5:36 PM, Blogger Randu said...

boleh, ka... boleh...

 
At 1:09 AM, Blogger astrid_reza said...

ceileh, kikikiki

 
At 2:30 PM, Blogger Nanang Musha said...

silahkan..silahkan saja anda merasa sebagai perempuan alami, silahkan kok..sungguh..saya tidak keberatan.

;)

 
At 8:01 PM, Blogger Agung Yudha said...

tumben loe nulis agak 'cerdas'. tapi gue lebih suka resensinya eternal sunshine of the spotless mind. hehehe

 
At 7:17 PM, Blogger Randu said...

kan biar ketauan pinternya, gung... hueheuheuehue!

 
At 6:09 PM, Blogger Silver Fox said...

Our network has been looking for a Multilevel business like yours to list in our World Directory & our forum.

Hey, there is no cost and it will only take a few minutes for you to register!

Your Silver Fox Business Building Team helping build your Multilevel business!

 
At 7:29 AM, Blogger portal alat berat said...

ALAT BERAT
SEWA ALAT BERAT
RENTAL ALAT BERAT
JUAL ALAT BERAT
BELI ALAT BERAT

 

Post a Comment

<< Home