Kereta Labu (Extended Version)
Ada seketika waktu, tepat di sepersekian detik kibasan tongkat peri, beberapa keping harapku terpecah dan terbang padamu. Tapi kaki-kakiku membeku di depan sebuah tatap, dan aku mencoba mencari arti yang dikirimkan detak-detak jantungku serupa morse pada kesadaranku akan sebuah kehadiran. Mu. Ya, kamu. Yang berdiri di atas undak-undak batu, yang hanya tersenyum saat aku terpaku di dalam sepatu karetku, mencoba meninggalkan lantai dansa yang tak pernah kita injak. Tak pernah kita injak… Kita tak pernah berdansa bersama di sana, di balairung besar tempatku mempertaruhkan hatiku di tengah-tengahnya. Tidak. Kita hanya menyepi di tepian, memperhatikan setiap gerakan, menjaga debar tak terdengar, dan tak ada sepatu karet yang tertinggal.
Mengapa ada magi di tiap kedatangan dan gerbang-gerbang yang terbuka? Mengapa ada magi setiap kita terduduk di sana memperhatikan tiap tetes hujan? Mengapa ada magi saat malam ini terjemput ajal dan matahari menjemur pagi? Mengapa ada magi di deru knalpot keretamu atau pesan-pesan singkat atau apalah ketebelece rindu?
Aku mengejar desing tongkat peri yang mulai terdengar kejauhan. Dengarkah? Desing itu telah kunantikan bermalam-malam, bahkan saat kau di depanku bercerita tentang baik buruknya harimu. Aku ingin desing itu merubahku segera, menjadi apa yang kuinginkan. Ah tidak! Menjadi apa yang kau inginkan! Atas aku!
Ya, rubahlah aku wahai desing tongkat peri! Jauhkanlah segala debu-debu. Jadikan aku berkilau-kilau di antara langit malam. Jeratlah aku dalam dongeng-dongeng semalam, tentang cinta tentang rindu tentang harapan tentang hidup yang bahagia selama-lama-lama-lama-lama-lama-nya!
Karena aku adalah si putri malang itu! Yang tertunduk tak berdaya oleh kutukan demi kutukan para penyihir keparat. Yang terjerembab dalam sumur para patriark dan menunggu ksatria-ksatria berkuda putih menyelamatkanku dari dalamnya. Demi dewa-dewa! Betapa menderita! Bukankah aku cukup terkualifikasi untuk terciprat kerlip sinar tongkat ajaibmu, wahai peri? Bukankah kutukan-kutukan itu telah melanggar hak asasiku sebagai manusia sebagaimana tercantum dalam deklarasi-deklarasi yang diikrarkan oleh orang-orang seluruh dunia? Berbuatlah sesuatu, peri! Selamatkan aku!
Jika tidak, bunuhlah harapan ini sekarang juga! Di depannya, di depan ribuan malam yang kulewati sia-sia bersama para perompak yang mengacak-acak bahteraku sampai mengapung tanpa daya di tengah samudera. Bunuhlah! Aku tak butuh dijejali harapan-harapan ini jika mereka ada hanya untuk mencemoohkan keberadaanku!
Mengapa kita tak lagi sempurna ketika harapan-harapan itu singgah di depan pintu kita? Harapan itu tak lagi menjadikanku manusia. Harapan itu akan selalu menyerang hidupku yang mapan, ajeg, lempang, dan utuh. Harapan itu akan mengoyak tembok-tembok kotaku, menyingkirkan keindahan yang kuciptakan berabad, dan mengembalikanku kepada keadaan kosong tanpa isi. Harapan itu menjadi benalu di antara kakiku, menyerap seluruh energiku dan merombak berlembar-lembar agenda hidupku, mempertanyakan semuanya!
Rusak. Riuh. Runtuh. Retih.
Tapi, mengapa masih ada harapan itu, bahkan saat aku tak lagi peduli dengan secuil pun dari dirimu? Bahkan saat hujan membawa semua rasa kembali ke sungai-sungai besarnya, ke samudera-samuderanya, lalu membiarkannya terbenam dan dimangsa taring-taring kelaparan. Bahkan mengapa ia tetap ada di kerjap pertama mata saat hari terbuka?
Apakah telah kau pikirkan aku? Jauh di dalam pejammu setelah sebaris rindu terlapis basa-basi gengsi kukirimkan dalam getar yang asing. Jauh di dalam rongga dadamu, saat punggung-punggung kita berbalik dan menyembunyikan sekian caci maki atas hening yang telah kita ciptakan sempurna di atas buncahan kata yang memenuhi tenggorokan kita?
Apa yang kita takutkan?
Sesungguhnya, malam ini aku hanya ingin menyingkirkan dusta sebelum kereta labu membawa compang-campingku pulang di dua belas malam dan mendudukkanku kembali di perapianku yang usang sambil menggigiti kepingan lelah yang kubuat semalaman saat mencarimu di koridor-koridor itu, hanya untuk mencari matamu dan berkata: “Aku mencintaimu. Titik. Puas?”
Sepatu yang kutinggalkan itu, sama sekali bukan harapan.
(jakarta, 10 Desember 2005)

1 Comments:
ALAT BERAT
SEWA ALAT BERAT
RENTAL ALAT BERAT
JUAL ALAT BERAT
BELI ALAT BERAT
Post a Comment
<< Home