Wednesday, December 28, 2005

Mater Dei

Lin duduk di ujung tempat tidurnya. Sambil menggigiti selembar serbet makan, ia melihat lelaki tua itu berjalan mondar-mandir di depannya sambil mengeluarkan ribuan caci maki ke udara. Di sebuah kursi, seorang perempuan duduk dengan isak yang tak pernah selesai. Sebuah poci teh tergeletak di atas tanah dengan posisi yang ganjil, posisi yang tak pernah diinginkan oleh sebuah poci teh: terjerembab terbalik dengan belalai yang patah. Laki-laki tua itu membantingnya tadi, menumpahkan semua amarahnya kepada tiap gerabah yang ada di rumah itu. Sebenarnya ia laki-laki yang baik, amarahnya tak pernah dialamatkan ke tubuh manusia lain di rumah itu, bahkan kepada Lin yang saat itu menjadi penyebab kemarahannya.

Vaginanya sudah dua bulan tak mengeluarkan darah. Dan sudah seminggu lebih ia memuntahkan semua makanan yang ditelannya. Mak Ching bilang ada bayi dalam perutnya, walau Lin tak pernah tahu bagaimana si bayi bisa masuk ke perutnya. Dalam desahnya yang panjang, Mak Ching hanya berkata: "kita lihat beberapa bulan lagi, semoga itu bayi laki-laki. kalau tidak…" Mak Ching menatap kedua bola mata polos gadis cilik yang rasanya baru kemarin ia keluarkan dari perut ibunya. Ia menghela nafasnya dalam dan memberikan beberapa ramuan racikannya untuk menjaga jabang bayi di perut Lin tetap bertahan.

Lin membereskan barang-barangnya, beberapa helai baju dan beberapa keping uang. Tanpa suara ia mengikuti sang laki-laki tua keluar dari rumah lalu beberapa saat kemudian mereka sudah keluar dari desa. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di sebuah gubuk reyot di pinggir hutan bambu. Lin merasa ada angin aneh menjalari tubuhnya. Ayahnya menaruh pelita di tengah gubuk, menggelar selembar kain di atas dipan reyot, lalu menyuruh Lin masuk ke dalam.

"mulai sekarang kau tinggal di sini sampai anak itu lahir. seminggu sekali ibumu akan kemari untuk bawakan bahan makanan. kalau anak itu laki-laki, bawalah pulang. kalau perempuan..." Laki-laki itu menghentikan bicaranya. Ia mencabut sebilah golok dari belakang punggungnya dan diserahkannya kepada Lin. "jangan bawa bayi perempuan ke rumah, nak. apalagi tanpa ayah."

Laki-laki itu menyelipkan golok ke tangan Lin yang berdiri mematung di depan pintu gubuk. Tak berapa lama laki-laki itu pergi dari gubuk, meninggalkan Lin yang masih berdiri dalam gemetar dan sunyi di sana.

Cahaya rembulan melipir turun lewat batang-batang bambu yang berdesis, menyembunyikan tangis seorang bayi lelaki yang lahir di antara akar-akarnya. Ditatapnya bayi merah yang menggeliat di atas dipan itu. Betapa rapuh. Dan betapa saat itu ia menyadari kerapuhannya sendiri. Lin mencium pipi montok bayinya. "Ah surgaku.. Kaulah yang dapat menyelamatkan hidupku..."

Ia menggendong bayinya yang seketika berhenti menangis dan menatap wajah Lin sungguh-sungguh. Lin menyapa semesta di mata bayinya. Semesta tersenyum kepadanya. Desis hutan bambu mengantarnya keluar gubuk membawa bayinya.

"Aku mencintaimu. Aku pun mencintai adikmu. Jika adikmu tak layak hidup, tak ada satu pun dari kita yang layak hidup. Tidak juga kau, surgaku. Maafkan aku."

Lin mencabut golok yang pernah ditinggalkan ayahnya beberapa bulan lalu dari atas tanah. Ia membelah semestanya menjadi dua. Dalam hening. Dalam bening.



***



Ia memperhatikan lelaki bernafas di sebelahnya. Punggungnya naik turun, mengetukkan irama hidup yang tak bisa terjeda. Bahkan olehnya, yang sedang memaki diri saat menanti keajaiban di balik punggung seorang lelaki. Ia tak harus menunggu lelaki itu membalikkan punggungnya dan mengatakan seluruh perasaannya. Tidak. Ia bisa menyelinap keluar dan tak kembali lagi. Persetan perasaan.



Malam ini adalah malam keseribu. Keseribu kalinya ia memandangi punggung itu. Keseribu kalinya ia menangis di baliknya, mempertaruhkan perasaannya tiap kali lelaki itu selesai menidurinya. Keseribu kalinya. Ia mengelus punggung itu sekali lagi, merasakan permukaannya yang kasar. Mencoba mengerti perjalanan sebuah punggung sampai ke tempat tidurnya. Ia sudah hafal tiap parut luka, jerawat, dan tahi lalat yang tersebar di punggung itu. Ia menghafalkan letaknya setiap malam, setiap kali lelaki itu selesai meraungkan birahinya dan membalikkan tubuhnya seperti biasa. Seperti biasa. Apa yang biasa?

Ia menerima lelaki itu hampir setiap malam. Seorang lelaki dengan isteri soleh dan dua anak yang beranjak remaja. Lelaki yang ia temui di sebuah bar, memandangi minumannya dalam mabuk, seakan semua masalah di hidupnya ikut tercampur di dalam gelas. Ah, betapa polosnya mata itu. Mata yang membuatnya langsung jatuh hati kepada lelaki itu. Mata yang menjadi kanak ketika lelaki itu menyusui putingnya, menghamba pada tubuhnya, lalu tergeletak di sampingnya bersimbah peluh dan duka. Ia akan selalu di sampingnya, menanti malam yang jatuh perlahan di luar jendela seperti biasa. Ya, punggung itu menjadi biasa karena selalu ada. Tapi punggung itu menjadi biasa karena selalu tiada. Punggung itu tak akan ada di sini sebelum adzan subuh berkumandang. Punggung itu akan lenyap dibawa kereta malam, menjauhi pembaringannya yang masih basah, kembali kepada kedamaian cinta.

Cinta?

Ia tak mengerti apakah ia sudah mencintai lelaki ini. Ia tak begitu mengerti tentang filosofi cinta. Ia mencoba mengikuti milis-milis filsafat, atau penyair, atau milis omong kosong lainnya di internet. Ia mencoba mencerna kata orang-orang tentang cinta. Gibran, Browning, Yeats, sampai De Mello. Ia tetap kosong, melompong sapi ompong. Mungkin ia sebegitu bodohnya, mungkin selama ini ia pura-pura pintar seperti kebanyakan orang kota. Mungkin, ia memang tak pernah mau tahu. Cinta itu ribet.

Tapi kini Cinta?

Apa bedanya dengan Ingin? Mana yang lebih penting: Cinta atau Ingin? Buat apa dicintai bila tidak diingini? Buat apa diingini jika tak dicintai? Apa yang bisa membuatnya terus bertahan bersama lelaki ini? Cinta atau Ingin? Apa yang bisa membuatnya hancur berserak atau tetap teguh kokoh? Cinta atau Ingin? Dan apa yang bisa membuatnya tetap di sini, bersembunyi di balik punggungnya dengan detik jam yang berdiam di dalam rahimnya? Cinta…? Atau…

Ini malam yang keseribu. Ya, ini yang terakhir. Tak ada seribu satu malam. Cukup seribu. Seribu kali jatuh cinta, Seribu kali patah hati. Genap sudah karma Pat Kai yang dideritanya. Cairan samsara manis telah direguknya habis dari piala. Kini hanya tinggal tubuh dan darah, kembali pada perjalanannya yang asing dan jauh sampai lebur dan menari bersama semesta.

Sejenak, ia tak ingin punggung itu pergi. Ia ingin punggung itu tetap di sini, berbaring damai di sampingnya untuk menyaksikan kesehariannya. Punggung itu akan melihatnya tidur, melihatnya bangun, makan, membereskan rumah. Punggung itu akan melihatnya membesarkan darah daging mereka yang mereka ciptakan di satu dari seribu malam. Punggung itu tidak akan terbangun lagi sebelum adzan subuh berkumandang. Tidak. Ia akan tetap di sini, menatap kehidupan yang berjalan mulus di belakangnya, tanpa suara, tanpa udara.

***

Kucoba memejamkan mataku. Perjalanan belum selesai. Belum. Jangan dulu pejamkan matamu, demikian sebuah suara di belakang kepalaku berbisik. Kucoba melihat jalan berkelok di depan sana, menanti sebuah tujuan yang aku yakin juga akan sementara. Tapi aku harus terus berjalan, jangan berhenti. Berhenti berarti mati.

Kuperhatikan lelaki yang berjalan di samping keledai yang kunaiki sekarang. Mata lelaki itu juga hampir terpejam. Aku merasa kasihan pada lelaki itu. Betapa aku turut membuat lelaki itu menderita. Lelaki itu ikut terusir keluar dari kota tempat kami dibesarkan untuk sesuatu yang tak pernah kami perbuat. Ini benar-benar tolol.

Aku memperhatikan perutku yang semakin membesar. Di dalam perut ini ada buronan. Aku hanya bisa tersenyum tipis dan sinis. Betapa dunia semakin tolol. Purba dan tolol. Belum puas menggantung perompak, membakar pencuri, merajam pelacur, kini mereka ingin memenggal kepala seorang bayi. Ya, bayi. Tepatnya bayi di dalam perutku. Hanya bayi ini, yang tiba-tiba kukandung tanpa persetubuhan dan tiba-tiba dianggap sebagai pengganggu kekuasaan. Bayi ini harus mati, demikian kudengar dari woro-woro para prajurit dengan terompet dan genderang mereka yang gaduh. Lalu seketika itu juga aku berkemas, ditemani oleh lelaki yang sedang berjalan di samping keledaiku.

“Berbahagialah! Kau akan melahirkan sebuah janji, wahai perempuan!” Tcih! Seenaknya malaikat itu berbicara seperti itu di depanku. Mentang-mentang malaikat. Jika janji itu bukan berbentuk bayi, mungkin aku akan berbahagia. Tapi kini konsep kebahagiaan yang dikatakan oleh malaikat itu menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. Siapa yang berbahagia? Tidak ada! Lelaki di sebelahku ini sama sekali tidak bahagia. Ia ketakutan. Lelaki itu hanya seorang tukang kayu muda lugu yang gemetar ketika diberitahu gadis pujaan hatinya tiba-tiba berbadan dua!

Lalu? Siapa lagi yang berbahagia? Aku? Kata ‘gila’ hampir kulontarkan dari mulutku pada malaikat itu. Tapi tidak sempat. Ia keburu pergi entah kemana, meninggalkan benih di dalam rahimku. Dan menempuh perjalanan ribuan mil menyeberangi dataran kering tanpa uang yang cukup adalah sama sekali bukan perjalanan yang membahagiakan. Dan menghindari pemeriksaan para tentara yang berjaga di setiap pintu masuk kota juga bukan kegiatan yang membahagiakan. Dan mengubah-ubah nama serta daerah asal setiap kali petugas pamong praja romawi mengeluarkan catatan juga tidak menyenangkan. Aku hampir lupa namaku sendiri. Aku hampir lupa mengapa aku di sini.

Dan, pasti bayi ini pun tidak bahagia di dalam sana. Ia pun pasti merasakan ketakutanku tiap kali sepasang mata prajurit menatapku dan perutku penuh curiga. Kurasakan ia menggeliat di dalam sana ketika tanpa sengaja aku mendengar seseorang berkata ada bayi yang dibunuh lagi malam sebelumnya. Kasihan. Bayiku pasti sedang meratap di dalam sana, seperti aku sekarang. Berapa ribu bayi lelaki lagi yang harus dibunuh oleh raja gila itu sebelum ia bisa menemukan jabang bayi yang dimaksud: bayi yang ada di dalam perutku.

Apa yang sebenarnya hendak mereka takutkan darimu, Nak? Apa yang sebenarnya harus kau lakukan jika kau dewasa nanti? Mengapa malaikat itu menyebutmu sebagai yang terjanji? Siapa yang berjanji seperti ini, Nak? Biar ibu pukul dia! Berani-beraninya melekatkan janji yang terlalu besar kepadamu hingga kita dikejar-kejar seperti ini!

Ufh! Kontraksi lagi. Ini sudah kelima kali. Malam melarut dan kami entah di mana. Keledai yang lelah dan setia ini terus berjalan gontai membawaku melewati beberapa gembala yang terlelap di samping kerumunan domba-dombanya. Lelaki itu menatapku dengan matanya yang kantuk dan iba melihatku menahan sakit.

“Tahan sebentar lagi. Kita akan coba penginapan itu. Di kandangnya pun tak apa. Yang penting kau bisa istirahat dan aku carikan tabib. Bertahanlah, Maryam…”

Lelaki yang baik. Lugu dan baik. Aku senang dia ada bersamaku malam ini. Walaupun aku tahu bayi ini bukan benihnya, kuharap ia mewarisi sifat lelaki ini. Ah, itu penginapannya. Pasti mereka tak mau menerima kami. Aku tak peduli, aku tak tahan lagi. Satu bintang paling terang di atas langit itu pun tak dapat kulihat lagi.



Selamat Hari Natal...

2 Comments:

At 6:57 PM, Blogger kucingkura said...

gile.. lama gak ngunjungin masih dahsyat juga! bener-bener dah ibu yg satu ini.. hehehe.. selamat natal ya nduk.

selamat tahun baru juga... :)

 
At 7:30 AM, Blogger portal alat berat said...

ALAT BERAT
SEWA ALAT BERAT
RENTAL ALAT BERAT
JUAL ALAT BERAT
BELI ALAT BERAT

 

Post a Comment

<< Home