Saturday, January 07, 2006

Sebuah Renungan Di Sekibas Tombak Yue Ying

sebetulnya, aku layaknya seorang pemboros yang gemar menaruh barang-barang ke dalam troli. aku senang melihat barang-barang itu bertumpukkan di sana, menindih satu sama lain, mengembangkan semua khayalku akan ribuan rencana. warna-warni barang-barang itu menjadi gempita di titik malam dalam bola mataku. melukisi dinding-dinding ratapan dengan semburan "chicken soup for the lonely soul", agar esok aku tak lagi menjadi bridget jones dengan diarynya.

begitu sampai di kasir, aku berbalik arah dan menaruh sebagian barang di rak yang berbeda, karena setelah dipikir-pikir barang-barang itu memang tak perlu ada di troliku.

dan di saat itulah presipitasi lokal menderas dan terus membanjiri lubang genangku. lubang yang telah dilindas ban-ban truk dan kontainer raksasa berulang kali tanpa ampun. lubang yang selalu terlupakan saat air bah menyurut dan meninggalkan warisan tanah lembab beserta kolera. lubang yang termaki saat lengah menjadi nama tengah dan kecerobohan menjadi label di saku kananku.

aku bangun pagi ini di sekian detik sapaan baritonmu. di kelengahan kantuk itulah kau menyusupi kegelisahan. begitu rapi dan polos. dan kau mengatakan rindu dengan semena-mena. sementara aku terus berjaga, memagari keberadaanku dengan bata-bata yang kususun perlahan dan raung yang tak terdengar.

aku sudah lelah dengan semua ini. lelah dengan kesempurnaan yang lewat begitu saja di depan mataku tanpa bisa kutangkap. aku tak ingin mempertahankan ribuan pertanyaan "jika yang lain bisa, mengapa kita tidak?"

ternyata privilese cinta bukan bagianku.