Sunday, May 14, 2006

Dik...

Dik,

kamu mengajariku bagaimana caranya tertawa. jauh sebelum Charlie Chaplin menggelitik dunia, kamu sudah membelah ketakutanku dengan sorot matamu yang selalu jenaka kepada malam.

Dik,

kamu mengajariku bagaimana caranya menjadi bertenggang rasa dan menghargai manusia. jauh sebelum lembar-lembar Das Kapital menghampiri rak-rak toko buku dan membuka wacana tentang pentingnya bahagia dan kecewa. aku menyadari arti hidupmu saat nafasmu terhenti satu per satu saat itu dan aku belum tahu bagaimana caranya berdoa selain menyanyikan "bintang kecil" dari pinggir tempat tidurmu.

Dik,

kamu mengajariku bagaimana menjadi keturunan sejati Adam Smith. telapakmu tak pernah mudah tengadah, walau hidup kita diterjang susah. dan bagaimana menghargai detik-detik waktu, setiap keping rupiah, dan setiap pelajaran di jengkal perjalanan.

Dik,

waktuku seribu, namun berdepa jauh langkah telah meninggalkan kepingan-kepingan masa kecil kita. aku tak dapat menikmati selorohmu setiap waktu, demikian juga rindu. tapi aku selalu di situ, di sebisikan jauhnya darimu. mungkin kau memang tak pernah tahu, tapi kau jauh lebih berharga dari nyawaku.

3 Comments:

At 8:44 PM, Blogger bugtronic said...

menyelam di expresoku
imajinasi menjadi chaplin
imajinasi menjadi webber
imajinasi menjadi kata
dan disatukan dengan buku
sebuag buku cinta
atau memoar tua tak terbaca.

 
At 10:43 PM, Blogger Lelaki Senja said...

adik abang, serupa langit dan bintang.

 
At 11:35 AM, Blogger Brett Manning said...

Hi,
Gambar Janda bertudung bogel klik disini Web Hosting Providers:

 

Post a Comment

<< Home