Sunday, May 14, 2006

Percayalah Padaku, Adia

percayalah padaku, Adia, sepatu kaca itu tidak pernah tertinggal di bawah tangga. ia tergeletak entah di mana. mungkin di tempat sampah, mungkin di antara cucian piring dan baju-baju kotor, mungkin terselip di antara sumbu-sumbu kompor warteg, mungkin teronggok di TPS Bojong menanti pemulung memungutnya dan menualnya ke bandar-bandar kaca bekas untuk dijadikan gelas hadiah sabun deterjen.

kita dibangun dari pasir dan masih berdiri di atasnya menunggu ombak pasang menghancur leburkan keutuhan kita. tuhan seperti batok kelapa yang berayun dibawa gelombang dan riak, menghampiri kita tanpa minat dan meninggalkan pesisir menuju pantai tanpa cemar. pasir-pasir kita semakin kering dikelantang matahari, mengepul dalam fatamorgana, dan jika kelelahan semakin ajeg, kita pun memasrahkan diri pada angin yang berpilin menjauh ke selatan.

jika demikian, adia, mengapa kita masih terus berlari, berlari, dan berlari dari kejaran hidup yang jahat seraya menyebarkan rumput jejarum dan batang-batang tombak? mengapa kita tak tidur saja selamanya dalam peti-peti kaca dan menanti keniscayaan menunggang kuda putihnya membangunkan kita? mengapa, adia? apakah kaki-kaki ini tak
cukup indah untuk berpijak? atau mungkin dunia terlalu membosankan untuk ditinggali hingga kita mencari-cari sejuta ketegangan yang tak perlu dan akhirnya sepecut petir memporak-porandakan kita dalam kepingan hingga tak terkenali lagi sebagai sebuntal daging bernyawa.

percayalah, adia, harapan adalah mozaik dari perca-perca kegagalan, bukan dari setengah pasang sepatu kaca yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu yang tak pernah terbuka.

2 Comments:

At 12:39 AM, Blogger ai said...

perca-perca perca, ya?

 
At 9:18 PM, Blogger Dina's writings said...

gw jatuh cinta...
sama puisi ini.
wow.

 

Post a Comment

<< Home